Hari 23 — Bibit-bibit Baru

Roberto Martinez (goal.com)

Selamat datang di hari ke-23 #AdventCalendar. Beberapa hari belakangan gua lalui dengan kondisi mental yang kurang baik. Hal itu bisa dilihat dari tulisan-tulisan yang gua buat sejak tanggal 20 Desember lalu. Bersyukur, hari ini sudah sedikit lebih cerah karena satu dan lain hal. Untuk merayakan itu, gua akan kembali menulis tentang sepakbola.

Satu negara yang akan gua bahas hari ini adalah Belgia. Meskipun nggak punya gelar apa-apa di level internasional, entah bagaimana caranya De Rode Duivels bisa bertengger di peringkat 1 FIFA sejak September 2018 lalu. Padahal, dalam rentang waktu yang sama, negara-negara seperti Perancis, Brasil, Italia, dan Argentina punya prestasi yang relatif lebih mentereng.

Mungkin pencapaian ini nggak akan berlangsung lama. Pasalnya, banyak anggota dari The Golden Generation yang sudah mendekati akhir masa jaya mereka. Nama-nama jagoan seperti Axel Witsel, Kevin De Bruyne, dan Eden Hazard pun sudah menginjak kepala tiga. Mungkin Roberto Martinez bisa mulai mengarahkan pandangan untuk mengangkat bibit-bibit baru — yang entah bagaimana — masih belum digaet klub elite Eropa. Dua di antaranya akan gua bahas hari ini. Siapa saja mereka?

Charles De Ketelaere

Charles De Ketelaere (beinsports.com)

Nama pertama adalah penyerang Club Brugge, Charles De Ketelaere. Di usianya yang baru menginjak 20 tahun, Prince Charles sudah menjadi tulang punggung bagi timnya. Bagaimana tidak, dia selalu menjadi starter dalam 20 laga liga yang telah dilakoni Blauw-Zwart musim ini. Belum lagi catatan sembilan gol dan tujuh asis yang jelas menahbiskannya sebagai pemain terpenting di Brugge.

De Ketelaere merupakan penyerang serbabisa yang mampu berposisi sebagai gelandang serang, pemain sayap, bahkan gelandang tengah. Selain itu, kreativitas dan kerja kerasnya menjadikan Prince Charles sebagai salah satu komoditas terpanas di benua biru saat ini. Mari kita bongkar.

Pertama, De Ketelaere telah mencatatkan 3.23 operan progresif tiap 90 menit. Jika dibandingkan dengan semua penyerang di kompetisi-kompetisi Eropa (rata-rata hanya 1.87 per 90), maka De Ketelaere masuk ke dalam 10% terbaik dalam acuan ini. Hal ini juga didukung dengan angka harapan asis sebesar 0.25 yang ia buat per 90 menit, yang membuatnya masuk ke dalam 6% terbaik di Eropa (hanya berselisih 0.13 dari pemuncak klasemen, Dimitri Payet).

Kedua, kerja keras Prince Charles dibuktikan dengan angka 20.73 pressure per 90 menit yang ia buat. Rataan ini berhasil menempatkan dirinya di 5% penyerang Eropa dengan rata-rata pressure terbanyak. Sebagai perbandingan, capaian rata-rata semua penyerang hanya berkisar di angka 14.30.

Terakhir, kita akan melihat jumlah tekel yang dibuat sang pemuda kelahiran 2001 ini. Hingga menjelang Natal, De Ketelaere sukses membuat 1.30 tekel per 90 menit. Lagi-lagi capaian ini merupakan salah satu yang terbaik di Eropa, mengingat rata-rata yang dibuat oleh para penyerang di kompetisi elite cuma sekitar 0.74 tekel per 90.

Dante Vanzeir

Dante Vanzeir (archysport.com)

Nama kedua ialah Dante Vanzeir. Mungkin kalian masih sangat asing dengan penyerang yang bermain di klub Union Saint-Gilloise ini. Namun, performa pemuda 23 tahun dalam beberapa waktu belakangan jelas akan membuat kalian tertarik. Sama seperti De Ketelaere, Vanzeir juga menjadi tulang punggung serangan bagi timnya. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah 20 kali starter di Belgian Pro League yang dilengkapi dengan paduan manis 11 gol dan delapan asis.

Mungkin kalian sekarang mengira, “ah, biasa aja. Semua pemain 23 tahun juga bisa gitu kali.” Eit, sabar dulu. Satu hal yang belum gua sebut adalah fakta bahwa Union SG merupakan tim yang baru aja promosi dan sekarang menjadi pemuncak klasemen Liga Belgia dengan keunggulan enam poin dari Club Brugge! Vanzeir sendiri bukan kejutan kemarin sore. Setidaknya sejak musim lalu, sang penyerang merupakan protagonis utama Union SG dengan torehan 19 gol serta enam asis dari hanya 24 laga sebelum meraih promosi ke Pro League.

Kedua nama tersebut sejatinya sudah mendapat perhatian dari bos timnas Belgia, Roberto Martinez. Namun, performa yang sedemikian ternyata dirasa belum cukup. Pasalnya, baik De Ketelaere maupun Vanzeir baru mencatatkan total lima penampilan bagi De Rode Duivels sejak November 2020. The Golden Generation yang dipimpin oleh Romelu Lukaku memang belum habis, tapi tentu nggak ada salahnya untuk memberikan panggung bagi bibit-bibit baru ini, bukan?

(sumber: fbref, fifa, whoscored, transfermarkt)

I’m Petrick Sinuraya, a 24-year-old football writer based in Indonesia. Currently, I’m working for one of Indonesia’s biggest football media outlets.

For inquiries, please contact me at petricksinuraya@gmail.com.

--

--

Meine Kraft Liegt in Jesus. Football writer.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store