Hari 22 — One-Month Notice

Siluet (eurosport.com)

Selamat datang di hari ke-22 #AdventCalendar. Bahan tulisan untuk kali ini sejujurnya nggak pernah mau untuk gua tulis. Kalaupun mau ya kayaknya nggak sekarang. Terlebih di masa menjelang Natal begini, di mana semua orang seharusnya bersukacita.

Kemarin, gua dapat kiriman pesan dari atasan di kantor. Beliau mengatakan bahwa kontrak freelance gua akan diputus pada pertengahan Januari mendatang. Meskipun demikian, beliau bilang bahwa gua masih akan mendapatkan gaji penuh untuk bulan Desember, dan separuh gaji untuk Januari 2022.

Sejujurnya, perasaan gua agak campur aduk. Di satu sisi, gua merasa marah dan kecewa setelah sebulan lebih dibuat bingung oleh ketidakjelasan yang ada. Di sisi lain, gua merasa sedikit bersyukur karena akhirnya mendapat kepastian, dan terbebas dari belenggu ini. Gua juga sejujurnya nggak sepenuhnya kaget ketika mendapat berita pemutusan kontrak mendadak tersebut. Pasalnya, beberapa teman kantor udah sempat membahas hal ini sejak 1–2 pekan terakhir.

Gua juga bersyukur bahwa gua masih diberikan waktu 30 hari (bahkan lebih) untuk mencari ladang baru untuk dikerjakan. Meskipun demikian, gua sadar bahwa gua harus bekerja keras untuk mencari ladang tersebut. Sebab nggak mudah coy untuk mendapat pekerjaan, khususnya di tengah pandemi begini.

Atasan gua di kantor mengirimkan pesan “maut” tersebut pukul 14.49 kemarin. Gua barusan menengok jam, dan waktu sekarang menunjukkan pukul 01.32. Kira-kira hampir 11 jam waktu telah berlalu, dan gua masih belajar untuk meresapi hal ini.

Beberapa rekan sudah merespon dengan cara mereka masing-masing (well, seenggaknya berdasarkan apa yang gua lihat di media sosial, ya). Ada yang melampiaskan kekecewaan dengan menyalurkan hobi, mungkin dengan terpaksa. Teman lain ada yang mem-posting foto anaknya yang masih balita dengan caption yang cukup pedih, dan ada juga di antara mereka yang seakan diam tapi mungkin sedang merenungi nasib. Sama seperti gua malam ini.

Salah satu hal yang paling banyak gua lakukan adalah membandingkan diri dengan teman-teman kampus seangkatan. Dari antara mereka, ada yang sedang mengejar gelar S2, banyak juga yang sudah nyaman di pekerjaan masing-masing, namun ada juga yang ternyata sudah berkali-kali resign dan bergonta-ganti pekerjaan.

Sedangkan gua, di dini hari begini, sedang duduk termenung dan berpikir, “Gila, gua masih umur 24 tahun tapi udah di-PHK. Ternyata begini ya rasanya.”

Di masa awal pandemi — ketika segala aktivitas luar ruangan masih terhitung langka — banyak orang yang di-PHK. Gua, yang saat itu bekerja secara freelance dan selalu dari rumah, merasa bersyukur karena nggak menjadi bagian dari mereka. Kala itu gua merasa beruntung. Gua merasa senang karena jadi segelintir orang yang pekerjaannya nggak harus “di lapangan”, dan bisa 100% dilakukan dari rumah (alias murni WFH).

Mungkin sekarang gua jadi bisa (sedikit) merasakan apa yang mereka rasakan. Ternyata nggak enak banget ya rasanya mengetahui bahwa kita akan dibebaskan dari pekerjaan. Dan, rasanya juga nggak enak banget untuk melanjutkan hidup ketika sudah dapat kepastian demikian. Sekarang rasanya gua pengen menutup mata untuk waktu yang lamaaaaa banget. Seakan ingin tidur panjang dan nggak pernah bangun nanti pagi.

Tapi, itu nggak mungkin. Gua pasti akan bangun. Dan, gua pun perlu sadar bahwa dunia juga nggak akan peduli dengan sejumlah kecil orang yang di-PHK ini. Sampai bertemu di kesempatan lain, teman-teman.

We move on 💪.

I’m Petrick Sinuraya, a 24-year-old football writer based in Indonesia. Currently, I’m working for one of Indonesia’s biggest football media outlets.

For inquiries, please contact me at petricksinuraya@gmail.com.

--

--

Meine Kraft Liegt in Jesus. Football writer.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store